Dr. KH Ubaidillah Tamam Munji Soroti Pernyataan Husin Ba'agil Soal "Siap Perang", Sebut Mahasiswa Harus Dirangkul Bukan Dihadapi
Dalam sebuah podcast yang beredar luas di media sosial, Kiyai Ubaidillah menilai pernyataan tersebut tidak tepat dan berpotensi menimbulkan provokasi di tengah kehidupan demokrasi Indonesia. Menurutnya, keputusan mengenai perang bukanlah ranah individu atau kelompok tertentu, melainkan kewenangan Presiden sebagai panglima tertinggi negara.
"Presiden belum menyatakan perang, masa sudah siap-siap perang. Komando perang itu ada di tangan presiden," tegas Ubaidillah.
Ia menjelaskan bahwa dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, keputusan untuk menghadapi konflik berskala nasional berada di bawah otoritas kepala negara. Karena itu, pernyataan yang mengarah pada mobilisasi massa untuk tujuan peperangan dinilai tidak relevan dengan kondisi saat ini.
Kritik Mahasiswa Bukan Ajakan Perang
Dalam pandangannya, Kiyai Ubaidillah menilai Husin Ba'agil kurang memahami esensi gerakan mahasiswa yang selama ini muncul melalui demonstrasi maupun kritik terhadap pemerintah.
Menurutnya, aksi mahasiswa tidak pernah dimaksudkan sebagai bentuk permusuhan terhadap negara. Sebaliknya, demonstrasi merupakan bagian dari mekanisme demokrasi untuk menyampaikan aspirasi, melakukan kontrol sosial, serta mendorong pembaruan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Mahasiswa berdemonstrasi itu bukan mengajak perang terhadap negara. Konteksnya adalah melakukan pembaruan dan mengingatkan pemerintah," ujarnya.
Ia menekankan bahwa gerakan mahasiswa merupakan fenomena yang wajar dalam negara demokrasi. Kritik yang disampaikan mahasiswa seharusnya dipahami sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa, bukan ancaman yang harus dilawan.
Bagi Ubaidillah, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual yang sedang menjalani proses pembelajaran sosial, politik, dan akademik. Karena itu, pemerintah maupun masyarakat perlu melihat berbagai bentuk ekspresi mahasiswa secara lebih bijaksana.
Mahasiswa Adalah Anak Bangsa yang Sedang Bertumbuh
Dalam podcast tersebut, Ubaidillah menggunakan analogi keluarga untuk menjelaskan posisi mahasiswa dalam kehidupan berbangsa.
Ia menyebut mahasiswa sebagai "anak" yang sedang menjalani proses pendewasaan. Sebagaimana anak dalam keluarga, mahasiswa membutuhkan pendampingan, ruang berekspresi, dan kesempatan untuk belajar dari pengalaman.
"Mahasiswa adalah anak bagi pemerintah dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara," katanya.
Menurutnya, dalam lingkungan keluarga, orang tua tidak selalu merespons kritik atau perbedaan pendapat anak dengan kemarahan. Sebaliknya, mereka memberikan ruang diskusi, dialog, dan refleksi agar anak dapat berkembang secara matang.
Hal yang sama juga berlaku dalam dunia akademik. Sebagai dosen, Ubaidillah mengaku terbiasa berdiskusi dengan mahasiswa yang memiliki pandangan berbeda, bahkan yang menyampaikan kritik secara terbuka.
"Saya biasa di kelas berdiskusi dengan mahasiswa, kadang ada yang protes. Itu hal yang biasa," ungkapnya.
Ia menilai bahwa perbedaan pandangan antara mahasiswa dan pemerintah merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat.
Sejarah Indonesia Tidak Lepas dari Peran Mahasiswa
Ubaidillah juga mengingatkan bahwa perjalanan sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kontribusi gerakan mahasiswa.
Menurutnya, sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era reformasi, mahasiswa selalu menjadi bagian penting dalam mendorong perubahan sosial dan politik.
Karena itu, ia meminta seluruh pihak untuk memandang gerakan mahasiswa dengan sikap yang lebih terbuka dan penuh penghargaan.
"Negeri ini dilahirkan dari pembaruan mahasiswa. Sampai kapan pun negeri ini akan dikawal mahasiswa," tegasnya.
Ia menilai bahwa mahasiswa memiliki fungsi historis sebagai agen perubahan. Kehadiran mereka dalam ruang publik melalui demonstrasi maupun kritik merupakan bagian dari tradisi demokrasi yang telah lama mengakar di Indonesia.
Dalam konteks tersebut, mahasiswa tidak seharusnya diposisikan sebagai lawan pemerintah, melainkan mitra kritis yang membantu menjaga arah pembangunan bangsa.
Jangan Ganggu Proses Pembelajaran Politik Mahasiswa
Lebih lanjut, Ubaidillah menyebut bahwa aksi demonstrasi juga merupakan bagian dari proses pembelajaran politik mahasiswa.
Menurutnya, kampus, rumah, dan masyarakat merupakan laboratorium kehidupan yang membentuk karakter generasi muda. Melalui interaksi di ruang publik, mahasiswa belajar memahami persoalan bangsa sekaligus mencari solusi atas berbagai tantangan yang ada.
"Mahasiswa berdemo itu refleksi, melakukan riset, dan membangun eksistensi dalam laboratorium kehidupan berbangsa dan bernegara," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengalaman berorganisasi, berdiskusi, hingga melakukan demonstrasi merupakan bekal penting bagi mahasiswa yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa.
Karena itu, berbagai kekurangan yang mungkin muncul dalam aksi mahasiswa seharusnya dijadikan bahan evaluasi dan pembinaan, bukan alasan untuk memusuhi mereka.
"Yang baik diapresiasi, yang kurang baik diajak komunikasi. Jangan dibenci," katanya.
Singgung Pesan Presiden Prabowo
Dalam kesempatan tersebut, Kiyai Ubaidillah juga menyinggung pesan Presiden Prabowo Subianto kepada sejumlah menteri agar tidak mudah tersinggung terhadap kritik yang datang dari mahasiswa.
Menurutnya, pesan tersebut menunjukkan pentingnya keterbukaan pemerintah terhadap berbagai masukan dari masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa.
Ia menilai bahwa kritik yang disampaikan secara konstruktif justru dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menjalankan program-program pembangunan.
"Kalau ada masukan yang baik, diterima saja," ujar Ubaidillah.
Pandangan tersebut sejalan dengan prinsip demokrasi yang memberikan ruang bagi setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat secara damai dan bertanggung jawab.
Kritik terhadap Narasi "Siap Perang"
Menutup pernyataannya, Ubaidillah kembali mempertanyakan relevansi narasi "siap perang" yang disampaikan Husin Ba'agil dalam merespons dinamika gerakan mahasiswa.
Menurutnya, ekspresi mahasiswa tidak semestinya dipahami sebagai ancaman yang membutuhkan respons konfrontatif. Ia mengingatkan bahwa perbedaan pandangan merupakan hal yang lumrah dalam negara demokrasi.
"Ekspresi mahasiswa kok dipahami seperti sebuah peperangan itu bagaimana?" tanyanya.
Ubaidillah menegaskan bahwa masa depan Indonesia membutuhkan ruang dialog yang sehat antara pemerintah, masyarakat, dan mahasiswa. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan komunikasi, penghormatan terhadap demokrasi, serta semangat pembelajaran bersama.
Baginya, mahasiswa adalah aset bangsa yang harus dibimbing dan diberi ruang untuk berkembang, bukan diperlakukan sebagai musuh. Dengan pendekatan yang lebih dialogis dan penuh penghargaan, berbagai dinamika yang muncul di tengah masyarakat dapat menjadi energi positif untuk mendorong kemajuan Indonesia. (Qodrat Arispati)
Simak videonya di kanal YouTube KH Ubaidillah Tamam Munji:


